SIDIK JARI

Sidik jari merupakan struktur genetika dalam bentuk rangka yang sangat detail dan tanda yang melekat pada diri manusia yang tidak dapat di hapus atau di ubah.  Sidik jari ibarat barcode diri manusia yang menandakan tidak ada pribadi yang sama.  Pola pembentukan garis-garis sidik jari terbentuk sejak embrio berusia 13 minggu dalam kandungan. Saat itu, tonjolan ujung jari, interdigital, area thenar (berhubungan dengan telapak tangan dan kaki), dan hypothenar di tangan mulai terbentuk.  Formasi  tersebut terlengkapi ketika janin berusia 24 minggu dan terus berkembang seiring dengan perkembangan sel saraf otak.  Jumlah garis-garis sidik jari tidak akan pernah berubah setelah bayi dilahirkan karena pola sidik jari dipengaruhi oleh DNA seseorang.  Sidik jari bersifat genetic yaitu diturunkan dari orangtua.

Penelitian sidik jari sudah dilakukan sejak masa lampau.  Penelitian ini berkembang menjadi disiplin ilmu yang disebut dengan dermatoglyphics, yakni ilmu yang mempelajari pola guratan kulit (sidik jari) pada telapak, tangan dan kaki. Dermatoglyphics berasal dari kata “derm” berarti kulit, dan glyph berarti ukiran. Ketertarikan para ilmuwan melakukan penelitian terhadap sidik jari disebabkan pola sidik jari manusia mempunyai keunikan karakteristik sebagai berikut.

Pertama, sidik jari bersifat spesifik untuk setiap orang.  Tidak ada pola sidik jari yang sama antara satu individu dengan individu lainnya, bahkan pada anak kembar identik. Kemungkinan pola sidik jari sama adalah 1 : 64.000.000.000, jadi tentunya hampir mustahil ditemukan pola sidik jari sama antara dua orang.  Pola sidik jari di setiap tangan  seseorang pun berbeda-beda, antara ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking.

Kedua, sidik jari bersifat permanen, tidak pernah berubah sepanjang hayat. Sejak lahir, dewasa hingga akhir hayat, pola sidik jari seseorang tetap sama.

Ketiga, pola sidik jari relative mudah diklasifikasikan. Walaupun sidik jari bersifat spesifik, bentuknya tidak acak.  Dalam sidik jari, ada pola-pola yang dapat diklasifikasikan sehingga untuk berbagai keperluan, misalnya pengukuran , mudah dilakukan.

Karakteristik dan keunikan yang ada pada sidik jari memunculkan banyak pertanyaan tentang fungsi dan maknanya.  Salah satu fungsi yang bisa diaplikasikan dari kehadiran sidik jari adalah penggunaan forensik identifikasi, yaitu menentukan perbedaan identitas seseorang melalui pola sidik jari yang dimiliki oleh tiap individu. Namun, apakah sidik jari hanya berfungsi sebatas alat identifikasi?

Penelitian riset ilmu dermatoglyphics banyak mengungkap kaitan pola sidik jari dengan interdisipliner berbagai bidang ilmu, khususnya antropologi, medis, dan psikologi.

3 Replies to “SIDIK JARI”

    1. Pola sidik jari terbentuk sejak janin dalam kandungan usia 13 minggu – 19 minggu. Pola sidik
      jari juga bersifat herediter/diturunkan dari orang tuanya. Pola sidik jari dipengaruhi oleh DNA
      seseorang, mengenai rekayasa sidik jari kecil kemungkinannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *